APLIKASI TEORI BELAJAR BRUNER DALAM PEMBELAJARAN
KUBUS
DAN BALOK
ABSTRAK
Salah
satu pelopor aliran psikologi kognitif adalah Jeremi S. Bruner. Bruner banyak
memberikan pandangan kognitif mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana
manusia belajar, hakikat pendidikan selain teori belajar dan teori pengajaran
yang dikemukakannya. Bruner membagi tahap-tahap perkembangan kognitif anak
dalam tiga tahap yaitu tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik. Beberapa
konsep dalam pembelajaran matematika dapat diuraikan langkah-langkah
pembelajaran menurut Bruner, mulai modus representasi enaktif, ikonik, dan
simbolik. Beberapa contohnya adalah pembelajaran konsep volum balok atau
menggambar jaring-jaring kubus pada materi bangun ruang sisi datar di SMP kelas
VIII. Menurut Bruner, proses belajar akan berlangsung secara optimal jika
proses pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap
belajar yang pertama ini telah dirasa cukup, siswa beralih ke kegiatan belajar
tahap kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik,
dan selanjutnya, kegiatan belajar itu diteruskan dengan kegiatan belajar tahap
ketiga yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik.
Kata kunci : Teori Bruner, Pembelajaran Matematika
I. PENDAHULUAN
Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku yang
merupakan akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar bukan sekedar
mengumpulkan pengetahuan tetapi merupakan proses mental yang terjadi dalam diri
seseorang, sehingga menyebabkan perubahan perilaku. Aktifitas mental itu
terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Banyak teori yang membahas tentang proses perubahan tingkah laku tersebut
Perkembangan psikologi kognitif sebagai suatu cabang psikologi yang
memfokuskan studi-studinya pada aktivitas mental atau pikiran manusia telah
berkembang sangat pesat seiring dengan menurunnya popularitas psikologi
behaviorisme, berkembangnya studi tentang perkembangan kognitif dan bahasa
serta kemajuan ilmu komunikasi. Studi tentang perkembangan kognitif manusia
telah melahirkan teori psikologi pembelajaran dan membentuk aliran baru yang
disebut kognitivisme.
Penyajian pembelajaran matematika saat ini tidak terlepas dari teori
psikologi pembelajaran kognitivisme. Galloway (Ratumanan, 2004) mengemukakan
bahwa belajar suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi dan faktor-faktor lain. Proses belajar meliputi pengaturan
stimulus yang diterima dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran
seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman
sebelumnya.
Kegiatan
pengelolaan informasi yang berlangsung di dalam kognisi itu akan menentukan
perubahan perilaku seseorang. Bukan sebaliknya jumlah informasi atau stimulus
yang mengubah perilaku. Demikian pula kinerja seseorang yang diperoleh dari
hasil belajar tidak tergantung pada jenis dan cara pemberian stimulus, melainkan
lebih ditentukan oleh sejauh mana sesaeorang mampu mengelola informasi sehingga
dapat disimpan dan digunakan untuk merespon stimulus yang berada di
sekelilingnya. Oleh karena itu teori belajar kognitif menekankan pada cara-cara
seseorang menggunakan pikirannya untuk belajar, mengingat dan menggunakan
pengetahuan yang telah diperoleh dan disimpan di dalam pikirannya secara
efektif.
Salah satu
pelopor aliran psikologi kognitif adalah Jeremi S. Bruner. Bruner banyak
memberikan pandangan kognitif mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana
manusia belajar, hakikat pendidikan selain teori belajar dan teori pengajaran
yang dikemukakannya. Beberapa konsep dalam pembelajaran matematika dapat
diuraikan langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner, mulai modus representasi
enaktif, ikonik, dan simbolik. Seperti pada materi bangun ruang sisi datar
II. PEMBAHASAN
A. Teori Perkembangan Kognitif Bruner
Jerome S. Bruner
(1915) adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar
kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang
demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar, dan berpikir.
Dalam mempelajari manusia, Ia menganggap manusia sebagai pemproses, pemikir,
dan pencipta informasi (dalam Wilis Dahar, 1988;118).
Menurut Bruner belajar matematika akan
lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan
struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping
hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Dengan
mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan,
anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa
materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah
dipahami dan diingat anak.
Menurut Bruner untuk memahami
konsep-konsep yang sifatnya abstrak, dibutuhkan wakil (representasi) yang dapat
ditangkap oleh indera manusia.Bruner juga mengungkapkan bahwa dalam proses
belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat
peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung
bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang
diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan
keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.
Dengan
memanipulasi alat-alat peraga, siswa dapat belajar melalui keaktifannya.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruner,
belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan
hal-hal baru di luar (melebihi) informasi yang diberikan pada dirinya. Sebagai
contoh, seorang siswa yang mempelajari bilangan prima akan bisa menemukan
berbagai hal yang penting dan menarik tentang bilangan prima, sekalipun pada
awal mula guru hanya memberikan sedikit informasi tentang bilangan prima kepada
siswa tersebut. Teori Bruner tentang kegiatan manusia tidak terkait dengan
umur atau tahap perkembangan (berbeda dengan
Teori Piaget). Ada dua bagian yang penting dari teori Bruner (dalam Suwarsono, 2002;25),
yaitu :
a.
Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar
b.
Teorema-teorema Tentang Cara Belajar dan
Mengajar Matematika
Penjelasan
tentang kedua bagian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar
Menurut Bruner,
jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan (Misalnya mempelajari suatu konsep
Matematika), pengetahuan itu perlu dipelajari
dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi
dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara
sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar
terjadi secara optimal) jika pengetahuan
yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap, yang macamnya dan
urutannya adalah sebagai berikut (dalam Suwarsono,2002;26) :
1.
Tahap enaktif, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara
aktif, dengan menggunakan benda-benda kongkret atau menggunakan situasi yang
nyata.
2.
Tahap Ikonik, yaitu suatu tahap
pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pegetahuan itu direpresentasikan
(diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar, atau
diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat
pada tahap enaktif tersebut di atas.
3.
Tahap simbolik, yaitu suatu tahap
pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol
abstrak (Abstract symbols yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan
kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol
verbal (Misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat) lambang-lambang
matematika, maupun lambang-lambang abstrak lainnya.
Menurut
Bruner, proses belajar akan
berlangsung secara optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap
enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini telah dirasa cukup,
siswa beralih ke kegiatan belajar tahap kedua, yaitu tahap belajar dengan
menggunakan modus representasi ikonik, dan selanjutnya, kegiatan belajar itu
diteruskan dengan kegiatan belajar tahap ketiga yaitu tahap belajar dengan
menggunakan modus representasi simbolik.
2. Teorema-Teorema Tentang Cara
Belajar Dan Mengajar Matematika
Menurut Bruner ada empat prinsip prinsip
tentang cara belajar dan mengajar matematika yang disebut teorema. Keempat
teorema tersebut adalah teorema penyusunan (Construction
theorem), teorema notasi (Notation
theorem), teorema kekontrasan dan keanekaragaman (Contras and variation theorem),
teorema pengaitan (Connectivity
theorem) (dalam Suherman E., 2003;44-47).
a)
Teorema penyusunan (Construction theorem)
Teorema ini menyatakan bahwa bagi anak
cara yang paling baik untuk belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah
dengan melakukan penyusunan representasinya. Pada permulaan belajar konsep
pengertian akan menjadi lebih melekat apabila kegiatan yang menujukkan
representasi konsep itu dilakukan oleh siswa sendiri.
Dalam proses perumusan dan penyusunan
ide-ide, apabila anak disertai dengan bantuan benda-benda konkrit mereka lebih
mudah mengingat ide-ide tersebut. Dengan demikian, anak lebih mudah menerapkan
ide dalam situasi nyata secara tepat. Dalam hal ini ingatan diperoleh bukan
karena penguatan, akan tetapi pengertian yang menyebabkan ingatan itu dapat
dicapai. Sedangkan pengertian itu dapat dicapai karena anak memanipulasi
benda-benda konkrit. Oleh karena itu pada permulaan belajar, pengertian itu
dapat dicapai oleh anak bergantung pada aktivitas-aktivitas yang menggunakan
benda-benda konkrit.
Contoh, untuk memahami tentang konsep
kubus atau balok maka guru memperlihatkan benda-benda dalam kehidupan
sehari-hari yang berbentuk kubus atau balok.
b.) Teorema Notasi
Teorema notasi mengungkapkan bahwa
dalam penyajian konsep, notasi memegang peranan penting. Notasi yang digunakan
dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif siswa. Ini berarti untuk menyatakan sebuah rumus
misalnya, maka notasinya harus dapat dipahami oleh anak, tidak rumit dan mudah
dimengerti.
Notasi yang diberikan tahap demi
tahap ini sifatnya berurutan dari yang paling sederhana sampai yang paling
sulit. Urutan penggunaan notasi disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak.
c.) Teorema pengkontrasan dan keanekaragaman
Dalam teorema ini dinyatakan bahwa dalam
mengubah dari representasi konkrit menuju representasi yang lebih abstrak suatu
konsep dalam matematika, dilakukan dengan kegiatan pengontrasan dan
keanekaragaman. Artinya agar suatu konsep yang akan dikenalkan pada anak mudah
dimengerti, konsep tersebut disajikan dengan mengontraskan dengan konsep-konsep
lainnya dan konsep tersebut disajikan dengan beranekaragam contoh. Dengan
demikian anak dapat memahami dengan mudah karakteristik konsep yang diberikan
tersebut.
Untuk menyampaikan suatu konsep dengan
cara mengontraskan dapat dilakukan dengan menerangkan contoh dan bukan contoh.
Sebagai contoh untuk menyampaikan konsep bangun ruang maka pada anak diberikan
beberapa gambar dan siswa menunjukkan gambar yang termasuk bangun ruang dan
yang bukan merupakan bangun ruang
Dengan contoh soal yang beranekaragam,
kita dapat menanamkan suatu konsep dengan lebih baik daripada hanya
contoh-contoh soal yang sejenis saja. Dengan keanekaragaman contoh yang
diberikan siswa dapat mengenal dengan jelas karakteristik konsep yang diberikan
kepadanya. Misalnya, dalam pembelajaran konsep persegi panjang, persegi panjang
sebaiknya ditampilkan dengan berbagai contoh yang bervariasi, misalnya ada
persegi panjang yang posisinya bervariasi (ada yang kedua sisinya yang
berhadapan terletak horisontal dan dua
sisi yang lainnya vertikal, ada yang posisinya miring, dan sebagainya).
d.) Teorema pengaitan (Konektivitas)
Teorema ini menyatakan bahwa dalam
matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang
erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi rumus-rumus yang
digunakan. Materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi yang lainnya, atau
suatu konsep tertentu diperlukan untuk menjelaskan konsep lainnya. Seperti pada
penentuan luas sisi bangun ruang balok maka dibutuhkan pengetahuan prasyarat
siswa tentang luas persegi panjang.
Guru harus dapat menjelaskan
kaitan-kaitan tersebut pada siswa. Hal ini penting agar siswa dalam belajar
matematika lebih berhasil. Dengan melihat kaitan-kaitan itu diharapkan siswa
tidak beranggapan bahwa cabang-cabang dalam matematika itu sendiri berdiri
sendiri-sendiri tanpa keterkaitan satu sama lainnya.
Perlu
dijelaskan bahwa keempat teorema tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk
diterapkan satu persatu dengan urutan seperti di atas. Dalam penerapannya, dua
teorema atau lebih dapat diterapkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran
suatu materi matematika tertentu. Hal tersebut bergantung pada karakteristik
dari materi atau topik matematika yang dipelajari dan karakteristik dari siswa
yang belajar.
B. Belajar Penemuan
Salah
satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari
Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery
learning) (dalam Wilis R.,1988;125-126). Bruner menganggap, bahwa belajar
penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan
dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk
mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya menghasilkan
pengetahuan yang benar-benar bermakna (yaitu kegiatan belajar dengan
pemahaman). Belajar bermakna merupakan
satu-satunya jenis belajar yang mendapat perhatian Bruner.
Bruner
menyarankan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara
aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-pninsip, agar mereka dianjurkan untuk
memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan
mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.
Pengetahuan
yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukan beberapa kebaikan. Pertama,
pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat,, atau lebih mudah
diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara
lain. Kedua. hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik
daripada hasil belajar lainnya. Dengan kata lain, konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan
pada situasi-situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan
meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. Secara
khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk
menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Selanjutnya
dikemukakan, bahwa belajar penemuan membangkitkan keinginan-tahuan siswa,
memberi motivasi untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban-jawaban. Lagi
pula pendekatan ini dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan memecahkan
masalah tanpa pertolongan orang lain, dan meminta para siswa untuk menganalisis
dan memanipulasi informasi, tidak hanya menerima saja.
Bruner
menyadari, bahwa belajar penemuan yang murni memerlukan waktu, karena itu dalam
bukunya ‘The Relevance of Education” (1971), Ia menyarankan agar penggunaan
belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu dengan
mengarahkannya pada struktur bidang studi.
Struktur
suatu bidang studi terutama diberikan oleh konsep-konsep dasar dan
prinsip-prinsip dan bidang studi itu. Bila seorang siswa telah rnenguasai
struktur dasar, maka kurang sulit baginya untuk mempelajari bahan-bahan
pelajaran lain dalam bidang studi yang sama, dan Ia akan lebih mudah ingat akan
bahan baru itu. Hal ini disebabkan karena ia telah memperoleh kerangka
pengetahuan yang bermakna, yang dapat digunakannya untuk melihat
hubungan-hubungan yang esensial dalam bidang studi itu, dan dengan demikian
dapat memahami hal-hal yang mendetail.
Menurut
Bruner, mengerti struktur suatu bidang studi ialah memahami bidang studi itu
demikian rupa, hingga dapat menghubungkan hal-hal lain pada struktur itu secara
bermakna. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa mempelajari struktur adalah
mempelajari bagaimana hal-hal dihubungkan.
C. Aplikasi Teori Belajar Bruner dalam
Pembelajaran Kubus dan Balok
Pada
pembelajaran konsep volum balok, langkah-langkah pembelajaran berdasarkan
tahap-tahap pembelajaran Bruner sebagai berikut:
1)
Siswa
melakukan sendiri baik secara individual atau kelompok memasukkan kubus-kubus
satuan ke dalam balok-balok berongga tanpa tutup dengan berbagai ukuran
sehingga penuh, seperti pada gambar berikut.
Siswa
melakukan sendiri baik secara individual atau kelompok memasukkan kubus-kubus
satuan ke dalam balok-balok berongga tanpa tutup dengan berbagai ukuran
sehingga penuh, seperti pada gambar berikut.
Kegiatan
di atas dilakukan pada tahap enaktif
2)
Kegiatan belajar selanjutnya adalah guru
menyediakan gambar-gambar kubus satuan dan balok-balok dengan berbagai macam
ukuran, kemudian siswa diminta menentukan volum balok-balok tersebut. Kegiatan
di atas berada pada tahap ikonik.
3)
Pada kegiatan selanjutnya, yaitu tahap
simbolik siswa dapat menurunkan rumus volum sendiri dan guru hanya mengarahkan
dalam bentuk kegiatan. Misalnya dengan lembar kerja siswa:
|
Balok
dengan ukuran
|
Volum
|
||
|
Panjang
|
Lebar
|
Tinggi
|
|
|
2
cm
2
cm
3
cm
4
cm
4
cm
3
cm
5
cm
p
|
3
cm
3
cm
4
cm
6
cm
5
cm
6
cm
10
cm
l
|
2
cm
3
cm
4
cm
5
cm
6
cm
6
cm
12
cm
t
|
…
…
…
…
…
…
…
…
|
Jadi volum balok dengan
panjang p, lebar l, dan tinggi t adalah:
V = … x … x …
Langkah-langkah
teori bruner dapat juga dilihat pada pembelajaran kubus yakni membuat dan
menggambar jaring-jaring kubus, Langkah kegiatan pembelajarannya sebagai
berikut:
1)
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan menugasi
siswa membawa paling sedikit 3 doos kecil berbentuk kubus dari rumah. Di kelas
tiap siswa dengan caranya sendiri diminta untuk megiris doos itu menurut
rusuknya sehingga dperoleh babaran atau rebahannya. Babaran atau rebahan doos
itu harus berbentuk bangun datar gabungan yang bila dilipat menurut rusuk yang
teriris akan membentuk kubus seperti semula.
Dengan cara ini siswa melakukan
tahap enaktif dalam memperoleh jaring-jaring kubus dengan memperhatikan rebahan
kubus. Siswa langsung menemukan cara memilih rusuk yang diiris sehingga
rebahannya bila dilipat kembali akan terbentuk seperti semula. Namun ada
kemungkinan siswa mengiris rusuk sedemikian rupa sehingga bila bangun
rebahannya dilipat kembal tidak diperoleh kubus seperti semula, misalnya ada
bagian sisi yang ompong/kosong karena menumpuk pada sisi lain/ sisi-sisi yang
saling menutup. Atau mungkin rebahannya tidak lagi berbetuk bangun datar
gabungan.
Berpandu pada hasil kerja siswa
guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi ciri-ciri (syarat) dari bangun
babaran atau rebahan kubus sehingga bila dilipat menurut rusuk yang tak teriris
membentuk bangun kubus seperti semula ( bangun babaran atau rebahan yang
sedemikian oleh siswa mungkin ditemukan lebih dari satu macam). Setelah itu
barulah guru mengkomunikasikan bahwa bangun babaran atau rebahan yang
sedemikian itulah yang disebut ”jaring-jaring kubus”.
2)
Pada tahap Ikonik, dengan berpandu pada hasil
kerja siswa diminta menggabar bangun babaran atau rebahan kubus yang berupa
jaring-jaring. Dengan mengingat syarat atau ciri-ciri dari suatu babaran kubus
yang berupa jaring-jaring kubus. Jaring-jaring kubus adalah rangkaian bangun
yang diperoleh dari enam persegi yang sama, dalam susunan tertentu. Kemudian
siswa diminta untuk menggambar jaring-jaring kubus yang lain, Misal contoh dua
jaring-jaring tersebut bentuk adalah sebagai berikut.
Bentuk jaring-jaring yang
merupakan contoh
Bentuk
jaring-jaring yang bukan merupakan contoh:
3)
Tahap Simbolis, untuk tahap simbolis siswa dapat ditugasi
untuk membuat jaring-jaring kubus dengan kertas bufalo yang baru, kemudian
membuat kubus dengan ukuran yang tertentu.
III.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Menurut Bruner untuk memahami
konsep-konsep yang sifatnya abstrak, dibutuhkan wakil (representasi) yang dapat
ditangkap oleh indera manusia.Bruner juga mengungkapkan bahwa dalam proses
belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat
peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung
bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang
diperhatikannya itu.
Bruner membagi
tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam tiga tahap yaitu tahap enaktif,
tahap ikonik dan tahap simbolik. Beberapa konsep dalam pembelajaran matematika
dapat diuraikan langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner, mulai modus
representasi enaktif, ikonik, dan simbolik. Seperti pada materi bangun ruang
sisi datar contohnya pemahaman konsep volum balok atau membuat jaring-jaring
kubus
Selain
teori perkembangan kognitif, Bruner mengemukakan teorema-teorema tentang cara
belajar dan mengajar matematika yaitu
a.
Teorema konstruksi (Construction
Theorem)
b.
Teorema Notasi (Notation Theorem).
c.
Teorema kekontrasan dan variasi (Contrast
and variation theorem)
d.
Teorema konektivitas (Connectivity
theorem)
B.
SARAN
1)
Pengajaran matematika hendaknya
diarahkan agar guru mampu secara sendiri menyelesaikan masalah-masalah lain
yang diselesaikan dengan bantuan teori belajar matematika. Begitu pentingnya
pengetahuan teori belajar matematika dalam sistim penyampaian materi di kelas,
sehingga setiap metode pengajaran harus selalu disesuaikan dengan teori belajar
yang dikemukakan oleh ahli pendidikan.
2)
Tidak hanya tingkat
kedalaman konsep yang diberikan pada siswa tetapi harus disesuaikan dengan
tingkat kemampuannya, cara penyampaian materi pun demikian pula. Guru harus
mengetahui tingkat perkembangan mental siswa dan bagaimana pengajaran yang
harus dilakukan sesuai dengan tahap-tahap.
3)
Diharapkan guru yang membaca
makalah ini dapat menerapkan teori belajar Bruner dalam pengajaran matematika di
sekolah
maaf kok gambarnya tidak ada?
BalasHapushatur nuhun sangat bermanfaat bagi kami guru di pesisir selatan jabar
BalasHapus